This WordPress.com site is the bee's knees

Terbaru

24 Hours in August (ff oneshoot)

 Tittle               : 24 HOURS IN AUGUST

Author            : Pinky Wonka (Apriliani)

Genre              : Romance, Sadness

Main cast        : Song Eunbi

                          Kim Kibum

“Saengil cukhae hamnida.. Saengil cukhae hamnida.. Saengil cukhae hamnida Eunbi.. Saengil cukhae hamnida..”

Uh, suara berisik apa ini? Apa ada orang gila yang malam-malam begini bernyanyi di tengah jalan? Kenapa suaranya keras sekali?

“Yah, eunbi-ya! Bangun! Selamat ulang tahun…”

Kenapa orang di tengah jalan tahu namaku? Dan kenapa sekarang tubuhku serasa digoncang dengan kasar? Apa yang sebenarnya terjadi?

“M-mwo? Apa yang kalian lakukan tengah malam begini?” ucapku setengah berteriak setelah berhasil membuka mataku yang berat ini dan menemukan wajah-wajah sumringah di hadapanku.

“SELAMAT ULANG TAHUN EUNBI SAYAAANG…” teriak mereka bersama-sama. Salah satunya membawa kue ulang tahun bertuliskan angka 19 yang terlihat berwarna-warni.

Ulang tahun? Jadi ini tanggal 21 Agustus? Dadaku tiba-tiba bergemuruh, nafasku tak teratur lagi, jantungku berpacu tak terkendali, mataku memanas dan tak henti-hentinya mengeluarkan air. Aku berlari sekencang-kencangnya keluar dari kamar menyesakkan ini, meninggalkan semua teman-temanku yang kebingungan dan terus memanggil namaku.

Aku sampai di atas atap gedung kampusku. Menumpahkan semua kepedihan dan kemarahan yang menyesakkan dada pada langit yang terhampar di depan mataku. Ingin rasanya aku berteriak, menangis, dan melampiaskan kemarahanku ini pada dunia. Tapi aku mengurung keinginanku untuk berteriak mengingat ini sudah lewat tengah malam. Yang bisa aku lakukan adalah menangis dan menangis. Menangis di dalam hati, menangis secara perlahan, sampai menangis sekencang-kencangnya.

“Aku benci! Aku benci dengan ulang tahunkuuu!” teriakku akhirnya, tak mampu lagi membendung kebencian yang bergemuruh. Aku tak mampu lagi menyangga kakiku tetap berdiri, kini aku tersungkur dan berakhir dengan kedua kaki terselonjor ke depan.

Aku masih menangis dalam diam ketika aku menyadari keberadaan seseorang yang sedari tadi sedang memperhatikan diriku. Aku menoleh, dan mendapati sebuah tatapan tajam tertuju padaku. Aku tak dapat melihat dengan jelas karena hari terlalu gelap. Aku mundur dengan teratur karena takut dia adalah orang yang berbahaya. Gerakanku terhenti saat aku sampai di sudut atap yang membuatku dapat melihat dengan remang-remang orang yang tersorot cahaya temaram lampu kecil di atasnya.

Orang yang aku kenal. Kini dia mengalihkan wajahnya ke arah lain saat kusadari matanya basah karena air mata. Aku penasaran dan berjalan mendekat ke arahnya.

“K-Kibum?” tanyaku ragu-ragu. Kini aku sampai tepat di hadapannya dan memastikan orang yang kulihat benar-benar Kim Kibum. Aku mengenalnya karena dia termasuk salah satu pria terpopuler di kampusku. Dia mahasiswa jurusan seni yang digilai banyak wanita. Sifatnya agak misterius dan selalu tak banyak bicara. Tidak, maksudku dia memang tidak pernah bicara denganku karena kami tak saling kenal.

Dengan perlahan orang yang kupanggil Kibum itu menolehkan wajahnya ke arahku dan membentuk ekspresi di wajahnya seakan bertanya, ‘kau siapa?’

“A-aku Song Eunbi. Mahasiswa jurusan Hukum di kampus ini,” ucapku dengan sedikit tergagap. Aku tidak tahu mengapa, tapi secara tidak sadar aku bergerak semakin dekat ke arahnya dan mendudukkan diriku tepat di sisi kirinya.

“K-kau, sudah lama berada disini?” tanyaku masih tergagap.

Aku benar-benar tidak mengerti dengan ekspresi di wajahnya. Biasanya, setiap hari ketika dia berangkat kuliah wajahnya begitu tampan. Dia bersinar secerah mentari pagi, semua yang melihat kehadirannya akan terpesona dibuatnya. Meski ia tak sering tersenyum, tapi kala tersenyum dia bisa melumerkan hati seluruh kaum hawa yang melihatnya. Tapi raut wajahnya hari ini, saat ini, ekspresi yang tidak aku kenal. Dia seperti… seperti seseorang yang menanggung beban sangat berat dalam hidupnya. Hatiku berdebar tak menentu, mungkin terlalu takut untuk bertanya lebih jauh.

“Kenapa kau membenci hari ulang tahunmu?” tanyanya tiba-tiba. Membuatku gemetar semakin hebat.

“A-apa?”

“Kenapa kau berteriak seperti orang gila tadi? Kenapa kau membenci hari ulang tahunmu?” ulangnya dengan nada tak sabar. Aku tidak bisa berkata apa pun, lidahku terasa kelu untuk menjawab dan air mataku tak mampu kularang untuk keluar.

“A-aku, aku..” ucapku terbata berusaha menjawab pertanyaannya. “Karena ulang tahunku, orang tuaku meninggal,” dan tangisku meledak. Aku tidak ingin mengingat kejadian pahit yang menimpaku 10 tahun silam.

Saat itu usiaku baru 9 tahun dan orang tuaku bertugas di luar kota. Karena mereka ingin memberiku kejutan di hari ulang tahunku mereka pun pulang menuju Seoul. Dalam perjalanan menuju rumah, mereka mengalami kecelakaan yang membuat nyawa mereka tak tertolong lagi. Aku menyalahkan diriku sendiri untuk waktu yang lama hingga akhirnya aku benar-benar membenci hari ulang tahunku. Andai aku tak terlahir pada tanggal itu, mungkin orang tuaku tak akan mengalami nasib tragis seperti itu. Dan setiap tahun, setiap jatuh tanggal 21 Agustus aku selalu menghabiskan waktuku dengan menangisi hari kelahiranku. Aku lebih membenci mereka yang selalu ingin merayakan hari ulang tahunku. Apa mereka ingin merayakan hari meninggalnya ayah dan ibuku?

“Kau orang terbodoh yang pernah kukenal,” ucap Kibum merespons ceritaku. Aku tidak menyangka dia akan berkata seperti itu usai mendengarku mengakhiri cerita. Aku menatapnya dengan tatapan bingung bercampur dengan kemarahan. “Seharusnya kau bersyukur kau mengetahui hari kelahiranmu dan mempunyai orang tua yang memperhatikan hal itu,” lanjutnya sebelum aku sempat mengatakan apa pun.

“Apa maksudmu?” tanyaku tidak mengerti.

Dia tak menjawab pertanyaanku, justru menundukkan kepalanya dan kulihat titik air bening menetes jatuh ke lantai, atau atap. Aku tidak tahu apa yang menggerakkanku, tapi melihatnya seperti ini aku benar-benar ingin menyeka air matanya. Aku mengangkat tanganku dan berniat mengusap air mata di pipinya ketika tiba-tiba dia mengangkat wajahnya.

“Apa yang kau pikirkan?” tanyanya mengagetkanku, membuatku menjatuhkan tanganku dengan segera.

“M-mwo?”

“Kenapa kau ceritakan ini padaku?”

Apa dia bodoh? Bukankah tadi dia yang bertanya? Tapi, tunggu dulu. Aku juga tidak pernah menceritakan hal ini pada teman-temanku meski mereka selalu mendesakku untuk mengungkapkan mengapa selama ini aku selalu ketakutan jika hari ulang tahunku tiba. Lalu kenapa aku menceritakan hal ini pada orang yang tidak aku kenal? Dan kenapa rasanya sangat nyaman ketika menumpahkan kegundahanku selama ini pada orang berwajah penasaran yang sedang menunggu jawabanku?

“Bukankah tadi kau bertanya? Karena itulah aku jawab,” kilahku tak menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaannya dan pertanyaanku sendiri.

“Oh,” balasnya singkat.

Sebenarnya apa yang ada di pikirannya saat ini?  Hanya itukah yang bisa dia katakan?

“Lalu, apa yang membawamu ke tempat ini malam-malam begini?” tanyaku memberanikan diri.

“Kau tidak perlu tahu.”

“Kenapa kau menangis?” tanyaku cepat-cepat. Aku tidak menyangka kalimat itu keluar juga dari mulutku.

Dia menoleh dan memusatkan pandangannya padaku. Aku menegang, tak sanggup membalas tatapannya. Dia menatap semakin tajam ke arahku dan semakin dekat. Jantungku berpacu semakin tak terkendali. Aku merasa nyawaku sedang terancam.

“Hey, kalian! Apa yang sedang kalian lakukan?” sebuah suara merusak heningnya malam yang syahdu ini sekaligus menyelamatkan aku dari tatapan maut yang suatu saat bisa membunuhku. “Dasar anak muda jaman sekarang! Malam-malam begini masih saja berpacaran disini! Sana, cepat pulang ke rumah masing-masing!” teriak suara itu semakin kencang dan membuat kami berdua berdiri secara otomatis. Orang itu mengacungkan tongkat di tangannya dan siap memukul kami berdua jika kami tak segera melarikan diri dari tempat ini.

“Hahaha, apa? Dia pikir kita sedang berpacaran? Hah, hah,” kataku tersengal-sengal setelah berlarian dan sampai di taman dekat kampus.

Disini juga gelap, aku melirik jam di tanganku dan itu menunjukkan pukul satu dini hari. Aku heran kenapa aku memakai jam tangan selagi tidur. Sedetik kemudian aku menyadari baju yang kukenakan sekarang ini juga bukanlah baju tidur. Oh, aku baru ingat. Semalam aku melarikan diri dari gerombolan teman-temanku yang sedang membicarakan masalah pesta ulang tahun untukku. Aku segera pulang kembali ke rumah dan menangis sejadi-jadinya begitu sampai di kamarku sampai aku lupa mengganti bajuku. Dan kemudian aku tertidur di tengah tangisanku.

“Yah, kenapa kau berlari seperti orang gila?” tanya Kibum setengah berteriak dan sedikit tersengal.

“Mwo? Kau tidak lihat tadi satpam itu sudah mengacungkan tongkatnya pada kita?” balasku balik bertanya.

“Haha, memangnya apa yang perlu ditakutkan? Kita kan tidak sedang melakukan hal-hal yang aneh..” ucapnya sambil tertawa. Omo, apa ini? Tadi aku melihatnya menangis dan sangat menakutkan, sekarang dia bahkan bisa tertawa lebar. Jantungku lagi-lagi berpacu tak menentu.

“Yah! Apa yang sedang kau pikirkan?” tanyanya mengagetkanku setelah tak ada respons dariku. Kemudian aku melihatnya tersenyum simpul. Oh, oh, melihatnya tersenyum dari jarak dekat ini benar-benar bisa membuatku meleleh.

“T-tidak ada. Aku hanya ketakutan,” jawabku tergagap. Aish, ada apa dengan mulutku?

“Wajahmu lucu sekali saat ketakutan,” katanya lagi sekarang hanya mengembangkan senyumnya. Ini pujian atau ejekan? Tapi aku merasa seperti melayang di udara. Yak! Song Eunbi, apa yang kau pikirkan?

***

            “Apa kau tidak kedinginan?” tanya Kibum tiba-tiba setelah kami sampai di sebuah bangku taman yang sedikit tersinari lampu.

“Tidak juga,” jawabku singkat, tak berani menatapnya karena aku yakin wajahnya saat ini melebihi ketampanan seorang pangeran. Aku takut kalau-kalau bola mataku melompat begitu aku melihatnya.

“Tubuhmu menggigil seperti itu masih bilang tidak,” jawabnya acuh. Apa dia akan memberikan jaket yang kini dipakainya untuk menghangatkanku seperti di film-film? “Sudah, pulang sana. Sebelum kau mati membeku disini,” lanjutnya. Oh, aku terlalu banyak nonton film.

“Sirheo. Aku belum mau pulang,” jawabku cepat, tidak tahu pasti apa alasannya.

“Kenapa?”

“Mmh, aku khawatir teman-temanku masih menunggu di rumahku,” ucapku akhirnya menemukan jawaban.

“Bodoh. Kau sungguh bodoh,” balasnya seraya berbisik.

“Mwo? Kenapa kau terus mengataiku bodoh? Apa masalahmu?” tanyaku tak terima. Dia tak menjawab pertanyaan ini sebelumnya.

Kibum tak langsung menjawab. Dia menolehkan wajahnya tepat di depan mukaku, membuat jantungku hampir melompat. Dia menatapku lekat-lekat, mencari-cari sesuatu di mataku sebelum akhirnya dia memecah keheningan dengan berkata, “Ada orang yang bahkan tidak tahu tanggal lahirnya.”

Dengan cepat dia mengalihkan pandangannya. Kemudian hening sejenak, aku sedang mengatur jantungku agar bekerja normal kembali, dan mengatur nafasku yang sempat terhenti beberapa saat.

“A-Apa maksudmu?” tanyaku setelah berhasil mengembalikan kesadaranku, meski kalimat yang keluar dari mulutku sedikit terbata.

“Dia tidak tahu kapan orang tuanya melahirkannya, apalagi mendapat ucapan selamat ulang tahun dari ayah dan ibunya.” Kalimatnya mengambang seperti matanya yang kini menerawang jauh ke langit hitam.

Aku masih memandanginya dengan penuh tanda tanya. Aku menelusuri setiap garis mukanya mencari makna yang terselubung dari setiap kata yang keluar dari bibir indahnya. Tapi aku sama sekali tak menemukan apa pun. Semakin lekat aku memandangnya yang aku dapatkan hanyalah kenyataan bahwa dia memang benar-benar tampan, seperti seorang malaikat.

“Kenapa dia tak tahu tanggal lahirnya? Kemana kedua orang tuanya?” tanyaku akhirnya tak bisa menyembunyikan rasa penasaranku.

“Tidak ada. Orang tuanya mencampakkannya,” jawabnya setelah berpikir sejenak.

Entah dari mana datangnya, kini perasaanku menjadi tak menentu. Aku memandang wajah syahdu di depanku dan mendapati diriku yang terhanyut dengan perkataannya. Aku seakan bisa merasakan kesakitan anak yang dicampakkan orang tuanya dari wajah tampan yang kini berubah muram di hadapanku. Hatiku terasa sakit, dan tanganku ingin mengusap air mata yang bergulir menetes di pipinya.

“Aku yakin orang tuanya tidak mencampakkannya. Mereka hanya mengusahakan kebahagiaan sang anak dan kini mereka ada di suatu tempat menunggu anaknya tumbuh menjadi orang yang luar biasa,” ucapku seraya menghiburnya. Hanya itu yang bisa aku katakan, dan mungkin tidak cukup untuk menenangkan hati seorang anak yang sedang berteriak kesakitan ditinggalkan sang orang tua.

Kibum terlihat mencerna kata-kataku, menyimpannya dalam otaknya, dan mengirimnya pada hatinya yang haus akan kata-kata penghiburan. Kemudian dia kembali memusatkan pandangannya padaku, menyiapkan kata-kata yang akan meluncur dari mulutnya. Aku menunggu dengan jantung berdebar-debar.

“Kau tahu, kini anak itu merasa sedikit terhibur karena seseorang. Dia ingin sekali mengucapkan terima kasih pada orang itu,” dan seulas senyuman semanis madu tercipta dari bibir tipisnya, sukses membuatku mematung di tempatku duduk tanpa mengedipkan mata sedetik pun.

***

            “Makanlah pelan-pelan,” ucap Kibum di sela-sela sarapanku. Oh benar, kami kini berada di rumah makan tak jauh dari taman tempat kami duduk tadi. Kami berbicara hingga tak menyadari hari sudah pagi. Aku dan Kibum sepakat menghabiskan hari libur ini dengan berjalan-jalan di kota. Tidak tahu mengapa tapi rasanya kami berdua sudah sangat dekat, dan masing-masing diantara kami tak berselera untuk pulang ke rumah.

“Aku terlalu lapar, sejak kemarin malam aku belum makan, uhuk uhuk,” jawabku tersedak saking semangatnya aku makan. Selain karena lapar, makan pagi bersama seorang pria untuk pertama kalinya membuat selera makanku mendadak naik. Aku senang bukan main merasakan sarapan bersama dengan orang lain selain ahjummaku di rumah. Sebenarnya aku tinggal bersama paman dan bibiku, tapi karena mereka sibuk dengan pekerjaan mereka jarang berada di rumah. Akibatnya, setiap hari aku menghabiskan waktu dan makan dengan ahjummaku seorang.

“Minum ini, kau seperti sudah tidak makan selama tiga hari saja!” katanya sambil menyodorkan gelas berisi air padaku. Aku menerimanya dengan segera, dan meneguk air di dalamnya dengan tak sabar. Sempat kulirik Kibum yang tersenyum entah karena geli atau kagum dengan cara makanku yang luar biasa. Aku tak menghiraukan senyuman mautnya.

Setelah sarapan kami berkeliling kota mencari hal-hal yang menarik. Di suatu mall besar di pusat kota sedang berlangsung festival dance yang diikuti para anak muda, kebanyakan siswa SMA atau kuliah. Kami memutuskan berhenti sejenak untuk menonton festival tersebut. Kibum terlihat sangat menikmati acara tari-tarian ini, dapat kulihat dari gerak tubuhnya yang selaras dengan musik yang berdentum. Aku benar-benar terpesona dengan wajah tampannya yang kini terlihat begitu cerah. Berbeda dengan yang kulihat beberapa jam yang lalu di atap kampus, kini senyumannya begitu cerah mengalahkan sinar matahari yang perlahan-lahan mulai meninggi.

***

            Kami berputar-putar mengitari pasar super besar di pusat kota, memakan es krim sambil melihat-lihat segala macam barang yang bisa dilihat. Kami sudah terlihat seperti sepasang kekasih saja. Kibum berhenti pada seorang penjual barang elektonik dan mulai mencari suatu barang. Dia mengulurkan tangannya untuk menjangkau sebuah benda kecil persegi panjang yang terlihat seperti alat pemutar musik. Dia membayar barang itu dan kemudian memberikan benda kecil itu padaku.

“Untukmu,” katanya seraya mengulurkan tangannya yang memegang alat kecil di tangannya yang aku tidak tahu pasti benda apa itu.

“Apa ini?” tanyaku, menerima benda kecil itu dan mengamatinya.

“Itu alat perekam suara, bodoh. Kau tidak pernah melihatnya?” katanya menjitak pelan kepalaku.

“Oh, aku tidak pernah lihat barang seperti ini,” ucapku manyun, “Tapi untuk apa ini?” tanyaku lagi.

“Tentu saja untuk merekam suaramu, kau benar-benar bodoh!” jawabnya dengan nada tidak sabar yang dibuat-buat. Sebelum aku bertanya lebih jauh dia sudah melanjutkan perkataannya, “Daripada kau berteriak-teriak di atas atap dan sangat mengganggu, lebih baik kau teriak disini,” ujarnya sambil menunjuk alat perekam di tanganku, “Dan kau bisa dengarkan sendiri betapa berisiknya teriakanmu itu!” pungkasnya.

Aku membentuk huruf o dengan bibirku tanda aku mengerti, tapi bukan itu yang tadi ingin aku tanyakan.

“Baiklah terima kasih. Tapi maksudku tadi adalah, kenapa kau memberikan benda ini padaku? Sebagai apa?”

“Sebagai hadiah. Bukankah hari ini kau berulang tahun?” balasnya enteng. Kemudian dia hendak membalikkan tubuhnya ketika aku dengan gerakan sangat cepat mengembalikan alat perekam itu ke tangannya dan berlari keluar dari keramaian kota ini.

Aku berlari sekencang-kencangnya hingga dadaku terasa mau meledak, mataku terasa panas menahan air mata yang mengancam untuk keluar. Aku tak menghentikan satu pun langkahku meski aku dengar dengan sayup-sayup seseorang memanggil namaku sambil berlari mengejarku. Dan meskipun aku sudah meningkatkan kecepatanku ke titik maksimal, orang yang sedari tadi memanggilku berhasil meraih tanganku dan menghentikan lari maratonku.

“Yah! Song Eunbi, apa yang salah denganmu?” teriak orang itu sambil mencengkeram tanganku kuat-kuat agar aku tak melarikan diri.

“Jawab aku!” teriaknya lagi, dan kini memaksaku memutar badanku 180 derajat, berhadapan langsung dengan sang empunya suara. Kulihat ekspresi wajahnya begitu terkejut ketika mendapati diriku yang berlinangan air mata. Aku tak sanggup menatap wajahnya sampai sebuah tangan membekap kedua pipiku dan memaksa mengangkat wajahku.

“Song Eunbi, kau masih membenci hari ulang tahunmu?” tanya orang itu lagi lebih lembut.

Aku tidak bisa berkata apa-apa, tapi kini aku berusaha menatap kedua mata Kibum mencari keteduhan di dalamnya.

“Aku.. aku takut,” ucapku terbata. Dan air yang mengalir dari kedua mataku semakin deras. Kibum terlihat bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Yang dia lakukan pada akhirnya hanyalah membelai kedua pipiku mengeringkan air mata yang tak mau berhenti untuk keluar. Pada keadaan normal hal ini seharusnya membuatku melompat kegirangan karena dia membelai pipiku, namun kali ini hati dan pikiranku sedang kacau. Aku ketakutan, sedih, dan terpuruk. Aku tak bisa merasakan apa pun lagi kecuali kesedihan yang merajam.

“Kenapa kau takut? Tenanglah, tidak ada apa-apa,” balas Kibum menenangkanku. Tapi yang terjadi aku justru semakin tidak karuan karena raut wajah Kibum kini berubah menjadi kekhawatiran, tak setenang kalimat yang keluar dari mulutnya.

Dia mendudukanku di salah satu bangku di bawah pohon ek besar, mengamati setiap gurat wajahku memastikan apakah aku baik-baik saja. Aku hanya tertunduk lesu sambil menahan air mataku agar tidak mengalir lagi. Nampaknya Kibum benar-benar mencemaskan keadaanku. Karena itu aku berupaya mengangkat wajahku dan memaksakan sebuah senyum keluar dari bibirku.

“Aku baik-baik saja, jangan terlalu khawatir,” ucapku dengan nada bergetar. Entah mengapa aku merasa bersalah karena telah membebani orang yang baru saja aku kenal. Jadi meski hatiku sakit luar biasa aku memaksakan untuk berkata aku baik-baik saja.

Kibum menghela nafasnya perlahan dan kemudian mulai berkata-kata.

“Aku benar-benar tidak tahu kapan tanggal lahirku,” ucapnya seperti untuk diri sendiri. Kini aku yang mencemaskan dirinya. Aku menatap wajahnya penuh perhatian.

“Aku tidak pernah benar-benar bisa mensyukuri hari kelahiranku. Tidak, aku mungkin malah tidak ingin dilahirkan. Orang tuaku membuangku begitu saja pada orang yang tidak aku kenal. Aku hidup dalam segala kepalsuan. Hari lahirku, orang tuaku, kemewahanku, semuanya palsu,” ujarnya seraya mengeluarkan senyum putus asa. Aku merasakan air mata mengalir tanpa komando dari mataku, melihatnya menahan penderitaan seperti ini lebih menyakitkan dibanding kesakitan yang kubuat sendiri.

“Hanya untuk melihat kedua orang tuaku mengucapkan selamat ulang tahun padaku dan bersyukur atas kelahiranku, itu sama seperti mimpi,” kini ia membalas tatapanku, berpikir sejenak untuk merangkai kata yang akan keluar dari mulutnya. “Kau tahu, dilahirkan dari orang tua yang menyayangimu adalah anugerah terbesar dalam hidup, semua orang mendambakan hal itu. Dan kau memilikinya,” pungkasnya mengakhiri ucapannya.

Aku kembali menunduk, mengeluarkan suara bergetar untuk diriku sendiri, “Aku sudah tidak memilikinya lagi.” Kurasakan air mataku semakin panas, “Dan itu karena aku.”

Kibum tampak frustasi mendengar jawabanku. Kemudian tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata, “Selamanya kau akan memiliki itu, cinta dari orang tuamu. Ketika mereka meninggal, hal terakhir yang mereka bawa adalah cinta kasih untukmu. Bahkan setelah mati pun, cinta mereka tetap mengalir untukmu. Mereka tidak pernah menyesalkan telah melahirkanmu. Keberadaan dirimu memberi mereka kebahagiaan, karena itulah kau layak mendapat cinta kasih mereka. Dan untuk pengorbanan mereka yang begitu besar mempertahankan cinta untuk dirimu, yang kau lakukan hanyalah menyalahkan dirimu sendiri karena telah lahir di dunia ini?”

Aku tak dapat berkata apa-apa, lidahku terasa kelu, terasa ada yang menonjok dadaku dengan kekuatan luar biasa, dan kini dadaku begitu sesak.

“Jika kau pikir dengan membenci hari kelahiranmu, menyalahkan dirimu sendiri setiap saat adalah solusi terbaik untuk menebus rasa bersalahmu, maka kau salah besar. Ayah dan ibumu meninggal dalam perjalanan menunjukkan wujud cinta mereka untukmu di hari ulang tahunmu. Pengorbanan sebesar itu, seharusnya kau membalasnya dengan sesuatu yang berharga, yang akan membuat mereka tidak menyesal telah berkorban demi dirimu. Apa jadinya jika mereka melihat putri yang begitu mereka cintai, yang dilahirkan dengan cinta tak ada habisnya, hidup dalam penyesalan maha dahsyat karena orang tuanya telah melahirkan mereka? Kau pikir mereka akan senang?” tandasnya membiarkan pertanyaan itu menggema di telingaku, mengoyak hatiku, merajam pikiranku.

Aku merasa begitu terpuruk. Aku merasa seluruh dunia sedang menertawai semua kebodohanku selama ini. Aku bahkan malu pada diriku sendiri. Aku malu pada orang tuaku. Aku merasa terasingkan dari dunia, aku seperti titik kecil yang bisa lenyap kapan saja. Hanya air mata yang mengalir semakin deras yang mampu mengungkapkan perasaan yang tak terlukiskan oleh berjuta kata.

Sebuah tangan hangat menyentuh pundakku, mendamaikan hatiku, dan menuntunku untuk bersandar di dadanya. Aku hanya menuruti ajakan tangan hangat itu, yang kini beralih membelai lembut rambutku, dan pipiku yang basah oleh air mata.

“Ini belum terlambat, kau bisa memperbaikinya mulai sekarang. Hiduplah lebih baik dan buat orang tuamu bangga,” ucapnya di sela isak tangisku. Hatiku terasa begitu damai mendengar ucapan itu, dan bersandar di dadanya menenangkan segala resah di hati. Aku hanya berharap, ini semua bukanlah mimpi.

***

            “Kau akan pulang?” tanyaku setelah kami sampai di depan rumahku. Kibum begitu mengkhawatirkan aku sehingga dia memaksa untuk mengantarku pulang ke rumah.

“Tidak,” jawabnya pendek.

“Wae? Kau akan kemana?”

“Ke tempat yang selalu aku datangi, rumah membuatku tak bisa bernafas,” katanya. Kemudian dia berbalik dan pergi meninggalkan aku yang masih mematung memandang punggungnya yang kian menjauh.

Aku masuk ke dalam rumah dan melihat jam di tanganku yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Oh, hari ini terlewati begitu cepat. Aku melihat ahjumma yang sedang duduk dengan wajah tak tenang di depan meja yang penuh dengan makanan.

“Ahjumma, ayo makan bersama,” ujarku yang kontan membuat ahjumma terkejut.

“Nona Eunbi, kau sudah pulang? Dari mana saja?” katanya khawatir.

“Hanya berjalan-jalan di sekitar sini saja. Bibi tidak perlu khawatir, aku tidak akan diculik,” balasku memamerkan seyuman seceria aku bisa. Dengan itu ahjummaku terlihat lebih tenang, dan kami mulai makan malam seperti biasa.

Usai makan kami sedikit bercengkerama. Aku menceritakan yang sudah kualami hari ini pada ahjumma. Dia sudah seperti orang tua dan teman bagiku, aku merasa leluasa menceritakan segala yang aku alami padanya. Ahjumma hanya mendengarkan aku dengan sabar dan menimpali ceritaku sekali-kali.

Aku menuju kamarku dan hendak tidur ketika hari sudah larut. Namun aku mengurungkan niat untuk tidur dan duduk di depan meja belajarku sambil memperhatikan benda kecil di tanganku. Aku mencoba menekan tombol yang ada pada alat perekam pemberian Kibum sore tadi. Dengan iseng aku merekam suaraku sendiri, dan kemudian meng-klik tombol selesai merekam. Aku mendesah dan berkata pada diriku sendiri, “Semoga saja aku bisa memperdengarkan ini pada Kibum suatu saat.”

Setelah mengatakan kalimat itu aku menjadi penasaran akan suatu hal. Aku segera menyalakan komputerku dan membuka alamat website universitasku. Pada link data base mahasiswa aku klik mouse yang kupegang. Disana tercantum semua riwayat mahasiswa dari semua angkatan yang pernah bersekolah disana. Aku membuka data mahasiswa jurusan seni di angkatanku dan mencari sebuah nama. Setelah aku menemukan nama yang kucari segera kutelusuri riwayat hidupnya. Pointerku berhenti pada tanggal lahir yang tercantum di dalamnya, tanpa menunggu lama aku segera bangkit dari kursiku, menggamit alat perekam di sebelah kiriku, dan berlari keluar rumah.

“Ke tempat yang selalu aku datangi, rumah membuatku tak bisa bernafas.” Suara itu terngiang di telingaku, membuatku meningkatkan kecepatan maratonku ke tempat yang mungkin ia maksud. Aku tak mau terlambat, jam di tanganku menunjukkan pukul 11.30 malam, dan hari akan segera berganti. Aku melawan nafasku yang terengah-engah demi sampai di tempat itu tak terlambat sedetik pun.

Di atas atap yang tak asing bagiku aku mencari suatu sosok. Dia sedang berselonjor nyaman di posisi yang sama ketika aku melihatnya sebelumnya. Setelah mengatur nafasku yang terasa memburu aku memanggil namanya dengan perlahan, “Kim Kibum..”

Orang yang kupanggil itu menoleh ke arah tempatku berdiri dan sedikit terkejut dengan kehadiranku. Dia segera bangkit dari duduknya dan mendekat padaku.

“Eunbi, kenapa kau kembali kesini?”

Tanpa menunggu lama aku segera memberikan alat perekam di tanganku padanya dan menekan tombol ‘play’.

“Saengil cukhae hamnida, saengil cukhae hamnida, saengil cukhae hamnida Kibum, saengil cukhae hamnida..” dan suaraku mengudara lewat alat perekam di tangan Kibum. Ia terkejut mendengarnya dan memandangku dengan tatapan penasaran. “Selamat ulang tahun Kim Kibum. Meskipun ini adalah tanggal lahir palsumu, tapi seharusnya kebahagiaanmu tidaklah palsu kan? Kau harus bahagia karena terlahir di dunia. Kau harus mensyukurinya, dan juga mensyukuri orang tua yang sudah menyayangimu. Meski mereka bukan orang tuamu yang sebenarnya, tapi cinta kasih yang mereka berikan padamu tak berbeda dengan cinta yang diberikan orang tua lain pada anak-anaknya, iya kan? Orang tua kandungmu sedang menunggumu menjadi orang yang luar biasa, jadi jangan sia-siakan pengorbanan orang tuamu yang terpaksa memisahkan diri dari putra yang ia lahirkan dengan cinta yang tak berujung. Hiduplah lebih baik dan buatlah mereka bangga!”

Klik. Tombol play terangkat dengan sendirinya menandakan rekaman suara telah selesai. Kibum memandangku tak percaya, matanya berkaca-kaca menahan tangis sekuat tenaga. Aku tersenyum padanya semanis yang kubisa dan dengan riang berkata, “Belum terlambat kan? Ini masih pukul 11.45.”

Dia tak merespons ucapanku sama sekali, justru sibuk memandangku dengan tatapan yang tidak aku mengerti. Lagi-lagi jantungku berpacu tak terkendali melihatnya memandangku seperti ini.

“Apa? Kenapa tidak mengatakan apa pun?” tanyaku menyembunyikan kegugupan. “Kau tidak suka aku mengucapkan selamat ulang tahun untukmu?” tanyaku lagi khawatir.

“Tidak,” jawabnya cepat, “Aku senang.”

“Kalau begitu kenapa diam saja?” tanyaku, tapi dia tidak menjawab.

“Yak, kau benar-benar tidak membenci ulang tahunmu lagi?” dia balik bertanya.

“Mwo? Ya, aku akan hidup lebih baik seperti yang kau katakan. Aku akan mulai mensyukuri hidupku ini dan membuat orang tuaku bangga. Kau juga jangan membenci orang tua kandungmu lagi!” ujarku masih dengan kegugupan yang tersisa.

“Bodoh, kapan aku bilang aku benci mereka?” ucapnya seraya menjitak kepalaku pelan. Jantungku semakin berdebar tak menentu dan aku hanya menunduk untuk menyembunyikan pipiku yang merona.

“Terima kasih. Kau orang pertama yang mengucapkan selamat hari ini. Yah, walaupun aku yakin kado dari para gadis itu sudah menumpuk di rumahku,” ujarnya ringan. Aku merasa sesuatu menonjokku di dada. “Wah, ternyata kau salah satu dari fansku?” tanyanya seakan menyadari sesuatu.

“A-apa?” tanyaku kaget. “Apa maksudmu?”

“Aku tidak memberi tahumu kapan tanggal lahir palsuku, tapi kau tahu itu. Semua fansku juga mengetahuinya, jadi kau salah satu dari mereka kan?” tanyanya seraya tersenyum.

Aku tidak bisa menjawab,  aku tertunduk lebih dalam dan menggigit bibir bawahku. Bagaimana bisa aku mengaku kalau aku baru saja browsing di internet?

“Itu.. aku, aku…”

“Tapi kau berlarian kesini hanya untuk ini? Wah, kau benar-benar fans sejati,” ucapnya memotong jawabanku, lalu dia terkikik.

“Yak! Aku bukan fansmu!” teriakku akhirnya, membuat wajahnya berganti ekspresi kekecewaan. Aku tidak mengerti mengapa seperti itu.

“Aku hanya, aku hanya merasa berterima kasih karena kau telah mebuatku tak lagi membenci hari lahirku. Aku merasa aku perlu mengucapkan selamat padamu juga. Lagi pula kau juga sudah memberiku hadiah, apa kau fansku?” aku menunjuk alat perekam di tangannya.

“Entahlah,” balasnya. Apa artinya entahlah?

Aku mengusir kecanggunganku sendiri dengan melanjutkan perkataanku. “Meski baru satu hari mengenalmu, aku merasa kita begitu dekat. Aku bukan fansmu, tapi aku rasa.. aku rasa..” aku menggantungkan kalimatku di angkasa, tak yakin apa aku harus melanjutkannya. “Aku rasa aku jatuh cinta padamu,” bisikku sangat pelan, memastikan Kibum tak mendengar ucapanku.

“Apa katamu tadi?” tanya Kibum yang membuatku kaget luar biasa. Dia menatapku dengan tatapan yang sangat tajam, namun penuh arti.

Aku tidak tahu apa yang menggerakkanku, tapi melihat tatapannya saat ini aku ingin berteriak dan tanpa sadar aku mengungkapkan, “Aku menc…”

Kata-kataku terputus ketika kurasakan bibir Kibum menekan bibirku dengan lembut dan penuh perasaan. Aku segera menutup mataku dan terbuai dalam hangat gerak bibirnya yang begitu memabukkan. Tak dapat kuungkapkan lagi dengan kata betapa bahagianya aku saat ini kecuali dengan membalas kecupannya yang terasa hangat di tengah dinginnya malam ini.

Bulan tak menampakkan lagi wajahnya, hanya bintang gemintang yang berkelap-kelip kecil menyaksikan syahdunya dua insan yang sedang meluapkan emosi cinta yang membara. Ketiga jarum jam yang melingkar di tanganku telah sampai di angka 12, pertanda hari kan segera berakhir. Tanggal 21 Agustus kan segera berganti dengan tanggal 22. Namun pergantian hari di malam ini terasa begitu indah. Tak akan ada lagi tanggal 21 Agustus yang penuh luka dan air mata, yang ada hanya 21 Agustus yang penuh cinta..

FIN

 

Sajadah Panjang

SAJADAH PANJANG

Aku melihat orang tua itu sedang duduk menekuri Al-Qur’an di pangkuannya. Dengan mukenah yang kusam dan sajadah panjang berwarna coklatnya yang selalu setia menemaninya. Mbah Rahmi namanya. Umurnya sudah hampir 70 tahun. Mbah Rahmi tidak punya keluarga, suaminya meninggal 2 tahun yang lalu, sedang ia tak mempunyai seorang anakpun. Sudah 1 tahun ia tinggal di desa kami, tinggal di sebuah gubuk tua di tengah ladang kosong yang tak terurus. Mbah Rahmi tidak mempunyai pekerjaan, karena memang usianya sudah tua. Sehari-harinya hanya ia habiskan dengan sholat dan mengaji. Karena itulah, setiap hari kami warga desa yang prihatin melihat keadaannya selalu menyediakan makanan untuk Mbah Rahmi.

Seperti biasa, setiap pagi aku selalu mengantarkan sarapan untuk Mbah Rahmi atas perintah ibuku. Aku mengambil piring dan gelas yang sudah bersih bekas sarapan kemarin di atas kursi reyot di dalam gubuk itu. Dan meninggalkan sepiring nasi dengan lauk pauk seadanya di atas kursi itu pula. Aku melihat Mbah Rahmi begitu khusyuk membaca Al-Qur’an, sehingga aku tak berani mengganggunya. Aku berlalu meninggalkan gubuk tua sambil berucap lirih, “Assalamualaikum”. Aku berjalan melewati rumput-rumput liar di sekeliling gubuk tua itu, lalu membayangkan apa yang akan dilakukan Mbah Rahmi seharian ini. Aku selalu memperhatikan apa yang dilakukannya, karena itulah aku hampir hafal dengan setiap kegiatannya.

Mbah Rahmi akan menyudahi tadarus Al-Qur’annya sekitar pukul 06.30, lalu ia akan menyantap sarapan yang setiap hari kuantarkan. Setelah itu ia akan pergi ke kali di desa kami untuk mandi dan mencuci pakaian serta piring tempat sarapan pemberianku pagi tadi. Meski sudah renta, Mbah Rahmi masih dapat melakukan hal-hal tersebut, dan itu yang membuatku kagum terhadapnya. Ia tak banyak bicara, tetapi ia tak pernah mau membiarkan dirinya hanya berpangku tangan.

Setelah mencuci dan mandi ia akan kembali ke rumahnya. Sesekali ia membersihkan ilalang-ilalang di sekitar gubuk reyotnya. Atau terkadang hanya sekedar membersihkan bagian dalam gubuk kecil tempatnya tinggal. Jika seluruh pekerjaannya sudah selesai, ia akan menunggu lohor dengan duduk-duduk di bangku panjang di depan gubuknya sambil melihat jangkrik-jangkrik yang berkerik-kerik, capung yang beterbangan kesana kemari, atau rumput-rumput yang tak terurus, sambil terus bertasbih atau beristighfar. Indah bukan buatan.

Yang tak pernah ia tinggalkan adalah sajadah panjang berwarna coklatnya. Ia tak pernah meninggalkan sajadahnya kecuali jika ke kali. Mbah Rahmi selalu menikmati pagi yang indah ditemani sajadah kesayangannya itu. Aku tidak tau pasti mengapa ia begitu tidak rela berpisah dengan sajadah tersebut, mungkin itu adalah sajadah peninggalan suaminya sebelum mati. Entahlah. Sajadah itu sudah kusam karena terlalu sering dicuci. Karena cintanya dengan sajadah panjang tersebut, suatu ketika ibuku henbak membarikan sajadah baru untuknya, ia menolaknya.

Jika tiba waktu lohor, ia bergegas pergi ke masjid di dekat kampung kami. Sepulangnya, makanan sudah tersedia di atas kursi reyot seperti biasa. Mbah Rahmi akan menyantap makanan lalu pergi ke kali jika waktu ashar hampir tiba. Di kali, Mbah Rahmi akan mandi serta mencuci piring. Selepas ashar ia akan kembali ke gubuk dan menyapu. Lalu akan kembali lagi ke masjid saat maghrib hingga isya, yang tentu saja tidak akan ia lupakan bersama sajadah panjangnya. Ia baru akan pulang jika dirinya tak mampu lagi menahan kantuk. Tak lupa ia selalu mengerjakan shalat malam setiap harinya. Dan begitulah seterusnya yang dilakukan Mbah Rahmi.

Aku mempercepat langkahku pulang ke rumah, karena waktu di jam tanganku sudah menunjukkan pukul 06.20. Pukul 06.40 aku harus sudah sampai di sekolah, karena ada PR yang belum aku selesaikan. Tentu saja agar aku dapat menjiplak PR teman-temanku. Begitulah aku. Terkadang aku malu pada diriku sendiri. Melihat Mbah Rahmi yang usianya sudah renta saja, masih mampu mencuci dan menyapu sendiri. Sedangkan aku, yang tubuhnya jauh lebih bugar daripada Mbah Rahmi, untuk menyelesaikan PR yang jumlahnya tidak seberapa dan tidak perlu memeras tenaga saja berat sekali rasanya. Kanapa tidak Kau ciptakan setiap orang seperti Mbah Rahmi saja Tuhan? Batinku mendesah.

* * *

Aku pulang dari sekolah sekitar pukul 13.30. Kulihat kampungku sedang geger, entah apa yang terjadi. Dengan segera, kutanyai orang yang baru saja lewat di depanku, Pak Mahmud.

“Pak, apa yang terjadi? Kenapa siang-siang begini semua orang sibuk kesana kemari?”

“Terjadi kebakaran di gubuk Mbah Rahmi!” jawab Pak Mahmud sekenanya, kemudian pergi entah kemana.

Aku penasaran dengan apa yang terjadi, kupercepat langkahku ke gubuk tempat Mbah Rahmi tinggal. Ternyata memang terjadi kebakaran disana. Aku melihat Mbah Rahmi yang sedang meronta-ronta terhadap orang-orang yang memegangnya erat-erat seperti melarang Mbah Rahmi pergi kemanapun.

“Sudahlah Mbah, jangan pergi ke gubuk itu, bahaya! Mbah bisa mati terbakar nanti!” seru orang-orang yang sedari tadi memegangi Mbah Rahmi.

“Aku harus kesana, aku harus menyelamatkan sesuatu!”

Mbah Rahmi akhirnya berhasil melepaskan pegangan orang-orang itu termasuk ibuku, dengan sekuat tenaga. Kemudian ia segera bergegas menerobos kobaran api yang siap melalap habis gubuk serta ladangnya. Beberapa orang mondar-mandir mencari bantuan memadamkan api tersebut.

Aku kebingungan melihat semua kejadian itu. Kutanyakan pada ibuku apa penyebab kebakaran tersebut, ibuku mengatakan bahwa Mbah Rahmi lupa memadamkan api di belakang gubuknya saat membakar sampah. Akibatnya api berkobar makin besar dan membakar gubuknya. Yang aku tidak mengerti Mbah Rahmi tetap memaksakan diri untuk menerobos ke dalam kobaran api maut tersebut. Semua orang panik melihat kelakuan Mbah Rahmi, mereka berdoa, dan berteriak sejadi-jadinya. Nampaknya Mbah Rahmi tidak mempedulikan teriakan orang-orang dan terus menerobos ke dalam gubuk, mencari-cari apa yang ia cari.

Beberapa menit berselang, Mbah Rahmi kembali dari dalam gubuk, terseok-seok keluar dengan batuk yang tak henti-henti sambil memegang kuat-kuat sesuatu yang telah ia selamatkan. Bersamaan dengan itu, Pak Mahmud yang ternyata saat kutemui tadi hendak mencari alat pemadam kebakaran, telah tiba. Lalu ia menyemprotkan alat tersebut ke arah api yang masih berkobar. Api dapat dipadamkan. Dan Mbah Rahmi memancarkan wajah bahagianya meski dirinya hampir dilalap api maut yang telah menghanguskan gubuk tempatnya tinggal.

* * *

Mbah Rahmi dibaringkan di kursi teras tetangga dekat gubuknya. Kami semua menatap sendu ke arah Mbah Rahmi. Dengan berlinangan air mata dan nafas tersengal-sengal ia berkata, “Selamanya tak akan kutinggalkan benda ini. Walau api yang akan menghalangi nafasku, atau badai yang akan menenggelamkan ragaku, aku akan menyelamatkannya. Selamanya, sampai aku tak bernyawa…”

Mbah Rahmi kemudian menghembuskan nafas terakhirnya. Tak dapat lagi kubendung air mataku untuk mengalir. Dan masih kulihat, ia terus mendekap benda yang baru saja ia selamatkan, meski jiwanya tak terselamatkan. Dan benda yang sedari tadi didekapnya itu adalah sajadah panjang kesayangannya…

* * *

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!